23

Cerah

Jumat, 19 Juni 2026 06:00

Mengupas Tuntas 9 Prosesi Sakral Festival Tabut Bengkulu 2026: Dari 'Ngambik Tanah' hingga 'Tabut Tebuang'
0 Likes
15 Views
Berita  Budaya

Mengupas Tuntas 9 Prosesi Sakral Festival Tabut Bengkulu 2026: Dari 'Ngambik Tanah' hingga 'Tabut Tebuang'

BENGKULU, CariBengkulu.com – Dentuman musik Dhol kini tengah menggetarkan langit-langit Kota Bengkulu. Gemuruhnya seakan memanggil setiap jiwa untuk larut dalam kemeriahan Festival Tabut 2026. Namun, Adik sanak sahabat Cari Bengkulu, pernahkah kita merenungkan makna mendalam di balik menara-menara megah setinggi 10 meter yang dihiasi kerlip lampu warna-warni tersebut?

Di balik bingkai pariwisata dan pesona visualnya, Festival Tabut adalah sebuah napak tilas spiritual yang sarat akan air mata, heroisme, dan penyucian jiwa. Tradisi ini dibawa oleh para pekerja Muslim keturunan India (Sipai) pada abad ke-17 saat pembangunan Benteng Marlborough, dan dipelopori oleh ulama kharismatik, Syekh Burhanuddin atau yang akrab disapa Imam Senggolo.

Kini, tradisi tersebut dijaga ketat oleh keturunannya dalam Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen. Sebagai jantung dari festival ini, ada 9 prosesi sakral yang berjalan berurutan, tidak boleh terputus, dan merangkum perjalanan kehidupan manusia. Mari kita selami narasi dari kesembilan ritus magis tersebut.

1. Ngambik Tanah (Mengambil Tanah)

Kisah ini dimulai dalam keheningan malam tanggal 1 Muharram. Setelah matahari terbenam, para tetua adat KKT melangkah menuju lokasi-lokasi keramat seperti Tapak Paderi, Pantai Nala, dan Keramat Anggut. Pengambilan kepalan tanah ini bukan tanpa alasan; ia melambangkan asal-usul ontologis manusia yang tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. Lebih dari itu, tanah ini adalah metafora dari debu suci Padang Karbala, tempat di mana cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein, gugur sebagai syuhada.

2. Duduk Penja (Menyucikan Pusaka)

Memasuki tanggal 4 hingga 5 Muharram, fokus beralih pada sebuah pusaka kuno bernama "Penja"—artefak logam berbentuk telapak tangan yang melambangkan lima figur utama keluarga suci Rasulullah. Penja yang telah disimpan setahun penuh dikeluarkan dan disucikan secara khidmat menggunakan air limau, bunga, dan cendana, lalu didudukkan secara terhormat di atas pelepah. Ini adalah momen purifikasi, membersihkan yang suci sebelum dipertontonkan.

3. Meradai (Pelajaran Berbagi)

Pada tanggal 6 Muharram, anak-anak keturunan Tabut yang berusia 10 hingga 12 tahun, disebut "Jola", turun ke jalan. Mereka menyusuri perkampungan untuk mengumpulkan sedekah dan sumbangan sukarela. Ritus ini adalah sekolah kehidupan; sebuah cara masyarakat adat menanamkan nilai empati, kedermawanan, dan gotong royong kepada generasi muda, menegaskan bahwa perayaan ini adalah milik dan tanggung jawab bersama.

4. Menjara (Adu Ketangguhan Dhol)

Inilah momen di mana adrenalin memuncak. Pada tanggal 7 hingga 8 Muharram, kelompok-kelompok Tabut (seperti Tabot Bangsal dan Tabot Berkas) saling berkunjung. Namun, ini bukan silaturahmi biasa. Mereka menggelar "perang" musikal. Irama Tamam yang bertempo tinggi, agresif, dan menghentak dimainkan dengan instrumen Dhol secara bersahut-sahutan. Suara memekakkan telinga ini adalah reka ulang dari ketegangan, provokasi, dan gemuruh keberanian di padang pertempuran Karbala.

5. Arak Penja (Menyapa Masyarakat)

Malam 8 Muharram, jalanan Kota Bengkulu berubah menjadi lautan manusia. Pusaka Penja yang telah suci kini diangkat, diletakkan di dalam struktur Tabut, dan diarak menyusuri jalan-jalan protokol kota. Iring-iringan ini menjadi jembatan mistis yang menghubungkan dunia spiritual historis dengan dunia fana hari ini.

6. Arak Serban (Simbol Kepemimpinan)

Keesokan malamnya (malam 9 Muharram), parade kembali digelar. Kali ini, sebuah "Tabut Coki" (Tabut berukuran lebih kecil) membawa sebuah sorban putih yang dihiasi panji-panji hijau atau biru bertuliskan nama Hasan dan Husein. Arak-arakan ini membawa pesan visual yang kuat tentang kesucian, keteguhan hati, dan pengorbanan agung seorang pemimpin.

7. Gam (Masa Hening dan Duka)

Setelah hiruk-pikuk arak-arakan, pagi hari tanggal 9 Muharram seakan membeku. Fase "Gam" atau masa hening diberlakukan. Seluruh aktivitas yang bising dihentikan secara absolut. Dentuman Dhol dilarang keras untuk dibunyikan sebelum menara Tabut selesai dirakit ke tingkat tertingginya (Naik Pangkek). Kesunyian ini adalah wujud duka cita komunal yang mendalam atas jatuhnya sang martir.

8. Arak Gedang dan Tabut Bersanding

Memasuki malam 10 Muharram, duka perlahan berganti menjadi perayaan estetika terbesar. Seluruh bangunan Tabut raksasa, baik Tabut Sakral maupun Tabut Pembangunan (Tabut Budaya), dikeluarkan dari markasnya. Mereka diarak secara kolosal (Arak Gedang) menuju lapangan sentral untuk disandingkan. Di bawah temaram cahaya malam, deretan menara ini berdiri megah, memamerkan harmoni antara sakralitas warisan leluhur dan kreativitas peradaban kontemporer.

9. Tabut Tebuang (Katarsis dan Pelepasan)

Kisah sepuluh hari ini berujung pada pagi 10 Muharram. Jutaan pasang mata akan menyaksikan seluruh bangunan Tabut diarak secara massal menuju kompleks pemakaman umum Karabela—tempat peristirahatan terakhir sang pelopor, Imam Senggolo. Pembuangan sisa ornamen Tabut ini adalah puncak katarsis emosional. Ritus pamungkas ini bermakna pembersihan jiwa; menandakan bahwa segala sifat iri, dengki, amarah, dan energi negatif dari tahun yang lalu telah dibuang jauh-jauh. Manusia kembali bersih, siap menyongsong hari baru.

Bagi Adik sanak sahabat Cari Bengkulu, Festival Tabut jelas lebih dari sekadar pesta rakyat tahunan. Sembilan etape ritual ini adalah monumen hidup yang mengajarkan kita tentang sejarah, solidaritas, dan pembersihan diri. Mari resapi setiap dentuman Dhol-nya, pelajari maknanya, dan terus bangga menjadi pewaris budaya luhur Bumi Merah Putih!

Label Postingan
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
Sektor Lainnya
0 Comments