BENGKULU – Keluarga besar Masjid Nur Asiah bersama warga Kelurahan Sidomulyo menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H pada Minggu malam (25/01/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi ajang refleksi spiritual, tetapi juga memperkuat jalinan lintas warga melalui zikir dan makan bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi zikir bersama yang dipimpin oleh Ustadz Romli Ronan, Lc., M.A. Suasana haru dan khusyuk menyelimuti masjid saat jamaah melantunkan kalimat-kalimat thoyyibah sebelum memasuki acara inti.
Ketua Masjid Nur Asiah, Ir. Ali Berti, M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan ini merupakan momentum penting untuk mempererat silaturahmi. Sementara itu, Ketua RT.31, Mihwan Yahmad, tampak sigap menyambut langsung kedatangan para jamaah. Kehadiran masyarakat pada malam tersebut sangat antusias, di mana jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari RT.31, namun juga mengalir dari RT.08, RT.25, hingga jamaah dari kelurahan lain di Kota Bengkulu.
Dalam ceramah intinya, Ust. Maulana Qasim Adi Sukmono, M.A., menitipkan pesan dan harapan besar kepada seluruh jamaah yang hadir untuk senantiasa memakmurkan masjid. Beliau menekankan bahwa indikator keberhasilan peringatan Isra Mi’raj bukan dilihat dari ramainya acara seremoni, melainkan dari meningkatnya jumlah jamaah yang hadir pada waktu-waktu shalat fardhu setelahnya.
"Harapan kami, semangat Isra Mi’raj ini bertransformasi menjadi semangat memakmurkan masjid. Jangan biarkan rumah Allah ini sepi setelah acara usai. Masjid harus menjadi pusat aktivitas umat, baik untuk ibadah maupun untuk membangun peradaban dan ekonomi masyarakat," ujar Ust. Maulana.
Mengupas esensi peristiwa Isra Mi’raj, Ust. Maulana menjelaskan shalat sebagai perjalanan menjemput perintah langsung dari Allah SWT. Beliau menghubungkan pentingnya totalitas ibadah melalui kisah inspiratif sahabat Syaban RA yang di akhir hayatnya mengucapkan tiga kalimat penyesalan dalam Bahasa Arab:
* Lau Kaana Ba’iidan – "Aduhai, seandainya (jarak rumah ke masjid) lebih jauh lagi." Penyesalan karena besarnya pahala langkah kaki menuju masjid.
* Lau Kaana Jadiidan– "Aduhai, seandainya (yang kuberikan) baju yang baru." Penyesalan karena tidak memberikan sedekah terbaik.
* Lau Kaana Kulluhu - "Aduhai, seandainya (kuberikan) semuanya." Penyesalan karena hanya memberikan sebagian kecil dari miliknya untuk orang lain.
Kisah ini memberikan pesan kuat bagi warga agar selalu memberikan yang terbaik dalam memakmurkan masjid dan tidak ragu dalam bersedekah secara totalitas
Peringatan Isra Mi’raj ini diakhiri dengan kegiatan makan bersama sebagai wujud syukur. Jamuan makan ini bersumber dari dana kas masjid serta sumbangan sukarela para jamaah yang bahu-membahu menyukseskan acara. Selain itu, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Baznas Provinsi Bengkulu yang menyalurkan bantuan berupa 100 kotak kue untuk para jamaah.
Dukungan dari Baznas serta gotong royong warga lintas RT ini diharapkan dapat terus memotivasi lembaga keagamaan untuk aktif menyelenggarakan kegiatan positif yang membangun karakter masyarakat melalui pendekatan agama dan sosial



0 Comments