Kantong Darah Tercemar Penyakit - Apa dan Bagaimana ?

Pemeriksaan HIV,hepatitis B,hepatitis C dan sifilis adalah prosedur wajib yg dilakukan di PMI terhadap semua kantong darah yang diterima dari pendonor. Penemuan HIV dan infeksi lain tersebut rutin didapatkan oleh PMI dari kegiatan pemeriksaan itu. Selama tahun 2016, didapatkan 149 kantong darah terinfeksi,terdiri dari Hepatitis B 48 kantong,hepatitis C 52 kantong,sifilis 47 kantong dan HIV 2 kantong. Yang cukup membuat terkejut adalah ketika memasuki awal tahun 2017, terdapat penemuan kantong darah tercemar yang tinggi. Di minggu pertama 2017 saja,ditemukan 5 kantong darah tercemar,2 dari 5 kantong darah tersebut HIV, selebihnya masing-masing 1 hepatitis C,1 hepatitis B dan 1 sifilis.Fakta lain,belum 1 bulan di tahun 2017,total  kantong darah tercemar hingga hari ini sudah mencapai 20 kantong darah.

Penemuan kantong darah tercemar HIV ini tidak perlu dicemaskan oleh masyarakat,karena begitu diketahui tercemar,kantong darah ini tidak akan diberikan kepada pasien,melainkan pasti dimusnahkan. Pemusnahan kantong darah tercemar ini dilakukan melalui kerjasama PMI dengan pihak ketiga pengelola limbah medis. Adapun terhadap pendonor yang diketahui reaktif HIV,UTD PMI bekerjasama dengan klinik VCT menindaklanjuti penemuan kasus ini dengan pemeriksaan ulang sampai dengan pengobatan. Untuk kasus hepatitis B,hepatitis C dan sifilis,dilakukan pemberitahuan via telepon atau surat,untuk kemudian dirujuk ke Spesialis Penyakit Dalam. Semua pendonor yang positif terinfeksi,dicekal untuk donor darah kecuali bisa menunjukkan hasil pemeriksaan negatif di kemudian hari.

Bagaimana mencegah mereka yang 'berpenyakit' melakukan donor darah? Sayangnya,hampir semua pendonor yang mengandung virus dan bakteri tadi,tidak menunjukkan gejala penyakit, mereka pun merasa sehat-sehat saja dan tidak mengetahui bahwa di dalam darahnya terdapat penyakit. Adapu upaya yang dilakukan oleh PMI untuk mencegahnya di antaranya :

Melakukan Wawancara dan pemeriksaan singkat pra donor dengan sebelumnya calon pendonor diminta mengisi daftar pertanyaan.
Di antara pertanyaan yang ada dalam lembar isian tersebut menyangkut perilaku dan gaya hidup pendonor. Calon pendonor diminta mengisi dengan jujur. Contoh pertanyaan yang harus diisi calon pendonor adalah : apakah anda pernah melakukan hubungan seksual berganti-ganti,apakah anda pernah memiliki pasangan seksual orang dengan HIV/AIDS,apakah anda pernah menggunakan narkoba suntik,apakah anda pernah tertusuk jarum medis...dsb
Petugas akan meneliti jawaban calon pendonor dan menanyakan beberapa pertanyaan konfirmasi. Bila tidak ditemukan kecurigaan gaya hidup menjurus penyakit,calon pendonor diminta menandatangani pernyataan yang isinya kesediaan diambil darahnya sebanyak 350 cc dan diperiksakan HIV,hepatitis B,hepatitis C dan sifilis terhadap kantong darah yang sudah diterima. Diharapkan bagi calon pendonor yang merasa dirinya ada penyakitnya,sudah mengundurkan diri dari niatnya untuk berdonor
Menggalakkan donor sukarela
Ada 3 kategori donor,yaitu donor sukarela,donor pengganti dan donor bayaran
Donor sukarela adalah mereka yang mendonorkan darahnya secara sukarela dengan kesadaran sendiri mendatangi unit transfusi darah karena niat membantu sesama dan mendapat manfaat kesehatan. Donor pengganti adalah donor yang berasal dari keluarga,kerabat,rekan atau mereka yang dipanggil/dibroadcast untuk melakukan donor darah. Donor bayaran adalah mereka yang melakukan donor darah untuk mengharapkan imbalan uang atau lainnya dari pihak yang dibantu. 
Dari ketiga jenis donor ini,donor bayaran adalah kelompok paling berisiko tinggi donasinya mengandung HIV dll,karena motif kebutuhan imbalan yang mereka harapkan menyebabkan mereka tidak akan jujur mengisi lembar pertanyaan yang diberikan karena takut tidak jadi diambil darahnya dan tidak jadi mendapat imbalan. Donor pengganti berdasarkan penelitian juga bukan kelompok aman,karena situasi yang mendesak yang terjadi pada orang dekatnya membuat calon pendonor juga cenderung menutupi prilaku berisikonya karena khawatir tidak bisa memberikan darah untuk orang terdekatnya.

Donor yang paling ideal adalah donor sukarela,karena mereka tidak memiliki motif apa-apa saat berdonor,sehingga ketika menyadari prilakunya berisiko,mereka biasanya mudah untuk mengundurkan diri dari berdonor. Apalagi kalau kegiatan donor darah dilakukan teratur,berarti donor sukarela ini sudah memiliki data pemeriksaan kantong darah setiap dia berdonor. Jadi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk donor sukarela teratur adalah upaya efektif untuk mencegah terjadinya kantong darah tercemar penyakit. Sedangkan di masyarakat kita,kebanyakan donor darah dilakukan hanya bila ada keluarga yang membutuhkan atau hanya di saat event donor darah
Melakukan sistem pencekalan donor reaktif melalui sistem informasi donor darah (SIMDONDAR) yang berlaku nasional
Dengan menerapkan SIMDONDAR,pendonor reaktif yang pernah ketahuan positif, saat berkunjung ke Bengkulu dan berniat donor darah,begitu memasukkan kartu atau nomor IDnya,akan langsung ditolak oleh warning system yang sudah dibangun oleh PMI Pusat.
Sayangnya dengan Biaya Pengganti Pengolahan Darah yang sekarang berlaku di Bengkulu ditambah minus bantuan,sulit bagi UTD PMI untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Pemeriksaan HIV dll yang dijalankan di UTD PMI sekarang dengan metode sederhana yaitu rapid test,walaupun dapat menemukan hingga 149 kasus di tahun 2016,namun disinyalir masih bisa meloloskan kantong HIV dkk karena metode yang dipakai di Bengkulu saat ini belum sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu metode ELISA yang lebih sensitif, canggih dan computerized.

Dengan Biaya yang berlaku di Bengkulu saat ini yaitu Rp 250.000 untuk RS di luar RS M Yunus dan Rp 150.000 untuk RS M Yunus,maka pemeriksaan dan pelayanan darah menjadi tidak optimal. Cita-cita menuju pelayanan darah yang aman,berkualitas dan mudah dijangkau sulit diwujudkan dengan keterbatasan sumber daya tersebut. Semoga berita mengenai kebijakan pemerintah menaikkan biaya pengganti pengolahan darah merupakan kenyataan yang nantinya akan dinikmati kembali oleh masyarakat dalam bentuk lagi-lagi cita-cita pelayanan darah yang aman,berkualitas dan mudah dijangkau.
Penulis : dr.Annelin Kurniati,Sp.PD (Direktur UTD PMI Kota Bengkulu)
Sumber Gambar : rimanews.com